Genap enam bulan sudah aku di Australia. Tinggal di tiga kota besar disini gampang-gampang susah. Banyak kejadian yang menyayat hati, ada juga yang melempar senyum. Hidup ini ternyata konsepnya sederhana, mau dimanapun kita berada, pada dasarnya adalah berusaha dan menerima.
Sejak saat aku di Melbourne, akhir Bulan Maret aku pindah ke Perth karena ada tarawan kerja dari temanku di Coffee Shop. Sebenernya sama aja kerja jadi Barista lagi, cuma, yang kali ini lebih besar change nya untuk berkembang karena Speciality Coffee. Nggak cuma praktek aja, tapi ilmu secara teoripun bisa aku galih disana. Karena aku datang ke Perth pada saat Covid-19 eksis, awalnya aku cuma kerja di Headspace Coffee, tapi karena ownernya punya Coffee Shop lain yaitu The Wolf Espresso, akupun ikut bantu-bantu disana. Itung-itung galih ilmu dan pengalaman.
Dua bulan lebih aku disini sampai akhirnya aku jatuh cinta dengan kota ini. Ternyata Perth lebih menyenangkan hati ini yang lebih suka kesendirian dan kesunyian.Aku jadi bisa jalan-jalan di kota tanpa grasak-grusuk berpapasan dengan orang lain. Tamannya yang bersih, sepi, juga sungainya yang biru juga bikin aku pengen berlama-lama berjemur dari sepulang kerja sampai matahari terbenam sambil nyalain lagu-lagunya Nosstress untuk intropeksi diri.