Thursday, April 1, 2021

Aku adalah Pilihan

Sudah hampir sepuluh bulan aku tinggal di kota kecil yang terkenal dengan pertambangannya di Australia, Karratha. Sudah pula aku belajar untuk menerima diri ini yang sendirian, tanpa bergantung dengan orang lain. Walau nyatanya sulit karena karakterku termasuk yang berjiwa sosial. Mungkin itu salah satu alasan aku ingin sekali pindah dari kota kecil ini, untuk pergi ke kota yang lebih banyak anak muda, lebih banyak teman sebaya sesama asal Indonesia. Apalagi menjelang Bulan Ramadhan, aku pasti akan sangat senang jika aku bisa berbuka puasa bersama dan lebaran bersama.

Saat itulah aku mencari peluang, mencari kota yang bisa menerima visa kerjaku yang sementara ini. Lalu tercetuslah, Kota Darwin. Karena aku tidak bisa lepas dari dunia kopi untuk saat ini, aku selalu mencari cafe-cafe dan menelusuri bagaimana mereka dalam sosial media. Lalu aku menemukan cafe yang sangat menarik, dengan review yang bagus, performa yang bagus dan saat aku melihat sosial media mereka, mereka tampaknya salah satu cafe terbaik di Darwin. Salah satu baristanya pun lumayan terkenal dengan banyak followes di sosial media dengan brandingnya sebagai latte artist

Baiknya Tuhanku, disaat yang sama aku ingin sekali bekerja di cafe itu, mereka sedang membuka lowongan sebagai barista. Aku sangat antusias dan segera melamar tanpa banyak pertimbangan. Lalu, disinilah otak seorang dewasa-muda ku harus bekerja.

Pada tanggal 21 Maret 2021, aku mengirim email ke cafe yang aku tuju. Yaitu @kopistopdarwin. Keesokan harinya, 22 Maret 2021, aku menerima balasan dari owner nya secara langsung. Hari demi hari kami berbalas email yang aku rasa beliau pun tertarik untuk aku bekerja dengannya. Lalu, pada tanggal 25 Maret 2021, beliau memintaku untuk online interview keesokan harinya. Setelah interview, ternyata aku sempat berubah pikiran untuk tidak pergi ke Darwin karena alasan tertentu. Tapi pada tanggal 28 Maret 2021, pemilik cafe tersebut bilang bahwa aku diterima dan beliau mau menunggu ku sampai aku bisa siap ke Darwin. Dari situ aku sangat senang dan tanpa pikir panjang langsung membuat rencana untuk kepergianku dari Karratha. Termasuk memberitahu pemilik cafe ditempat aku bekerja sekarang (@empire6714) jika aku ingin berbicara empat mata untuk memutuskan keluar.

Dua hari setelah aku diterima, aku memutuskan untuk membeli tiket pesawat karena jika ditunda akan semakin mahal. Tepatnya tanggal 30 Maret 2021, aku berencana membeli tiket dan disaat itu pula aku ada pertemuan dengan pemilik cafe ditempat aku bekerja sekarang. Pagi hari itu, setelah aku selesai membeli tiket pesawat, aku menemui beliau. Tidak lama kemudian aku menjelaskan bahwa aku akan keluar untuk belajar lebih dalam mengenai kopi. Ternyata, jawaban beliau sangat unexpected. Beliau cukup sedih mendengar aku akan keluar, walau tampaknya cukup mengerti keadaanku. Tampaknya beliau tidak ingin aku keluar, lalu tidak lama dari situ beliau menawarkanku menjadi posisi Supervisor. Beliau bilang kalau selama ini telah melihat performaku bekerja dan aku pantas untuk mendapatnya posisi itu. 

Disitulah, aku dilemma. 

Mendengar itu, aku bukan senang atau girang, tapi aku bingung, bingung, sangat bingung. Lalu beliau memberikanku waktu satu hari untuk berpikir dan disaat itu juga beliau memberikanku detail pekerjaan sebagai posisi Supervisor. 

Kenapa aku bingung? Aku telah diterima kerja di Kopi Stop Darwin, bisa belajar lebih dalam tentang kopi speciality, sudah membeli tiket pesawat, tapi juga menjadi Supervisor adalah tantangan baru untuk aku banyak belajar di industri ini lebih luas. Dari situ aku langsung bertanya pada beberapa teman, juga keluarga, bagaimana pendapat mereka tentang ini. Pilihan mereka berbeda-beda. Tapi tetap, keputusan dan pilihan itu ada ditanganku. Aku yang bekerja, aku yang memilih. Disaat itulah aku sangat keras berpikir sampai tidak tau cara berpikir.

Sulit. Aku harus memilih diantara dua pilihan, yang dua-duanya adalah pilihan yang baik dan positif. Darisana aku sadar bahwa, apa yang ada dihadapan aku saat ini adalah sebuah pilihan. Aku sekarang adalah sebuah pilihan. Aku adalah pilihan.

Dari situ lah aku belajar bagaimana berpikir, menelaah, mencari pilihan yang tepat untukku, bukan hanya untuk saat ini, tapi juga untuk masa yang akan datang. Bukan hanya untuk jangka pendek, tapi untuk jangka panjang. Pola pikir ku sedikit demi sedikit berubah, yang dulu aku selalu memutuskan sesuatu dengan cepat tanpa berpikir panjang, atau orang lain sering sebut diriku ini sebagai orang yang Action Oriented. Tapi, dengan genapnya 24 tahun umurku tanggal 19 Maret 2021 kemarin, mungkin ini adalah sebuah proses pendewasaan diri yang diberikan Tuhan untukku untuk bagaimana cara berpikir dengan cara yang lebih dewasa. 

Terima Kasih, Allah.

Lalu, apa pilihanku? Mungkin akan tau ditulisanku selanjutnya! 😜

© The Truth of Feeling
Maira Gall