Aku menulis apa yang menjadi kekuranganku, lalu aku berusaha mencari solusi dan menuangkannya dalam tulisan. Bukan berarti aku sudah mendapatkan solusi, tapi aku hanya berusaha mendapatkannya. Jadi, jangan panggil aku pencetus, pengarang, atau pengaruh. Karena aku hanya menuangkan apa yang menjadi usahaku saja. Aku hanya menampar diriku sendiri.
Jadi, seminggu sebelum sidang tugas akhir, aku banyak menerima pikiran aneh dalam kepalaku. Entah apa saja, namun itu lumayan menggangguku disaat aku harus membersihkan kotoran dalam pikiran dan hati untuk sepenuhnya kuberikan pada tugas akhirku. Akhir-akhir ini aku sangat sensitif pada sebuah "respon". Bisa jadi, seperti stiker di spakbor belakang motor, "lu senggol gue bacok". Apapun bahasan atau topik yang sedang dibicarakan, aku selalu mengharapkan respon yang aku inginkan.
Perempuan, apalagi aku, seorang ekstrovert yang mendapatkan energi dengan bercerita. Pada siapa saja, pada apa saja. Jika aku tidak menemukan seseorang sebagai rumah untukku bercerita, pada siapa lagi, selain pada daun-daun dan angin pagi hari. Aku tidak menyebutkan bagaimana caraku bercerita pada Tuhanku, karena itu bukan topik yang ingin aku ceritakan.
Itulah, sedikit menderitanya menjadi ekstrovert menurutku. Jika tidak ada obyek hidup untuk bercerita, pada siapa lagi selain obyek yang mati dan tidak bisa "merespon"? itulah mengapa, aku disini menuliskannya. Kadang, aku suka merasa heran bagaimana seseorang bisa dengan mudahnya mengabaikan orang lain. Ketika temanku butuh teman untuk bercerita, lalu aku mau tidak mau harus mendengarnya. Bukan hanya mendengarnya, tapi juga paham apa isi pembicaraannya. Itulah caraku menghargai temanku. Tapi, jika memang dari awal aku rasa itu tidak penting untuk aku tau, aku bisa bilang itu baik-baik, atau dengan cara yang lebih kreatif untuk menghentikannya. Karena aku tidak tau, apa yang sedang dialaminya. Bisa saja, temanku benar-benar sedang membutuhkan orang lain sebagai 'rumah'nya.
Paham maksudku?
No comments
Post a Comment