Tuesday, March 20, 2018

hidup adalah sebuah petaruh

Sesak tak tertahan oleh sejuknya malam kala hujan yang turun perlahan. Seperti dalam genggaman sang malaikat, napas itu di dominasi oleh ketidakberdayaan perempuan yang sedang bertambah bahaya selagi ganjil usianya.


Tapi, ganjil atau genap, sama bahayanya. Bukan soal sesak, sejuk malam kala hujan, ataupun malaikat yang menemuiku malam itu. Tapi tentang bahaya usiaku. Dua puluh satu tahun, bukan perkara mudah bagi ayah dan ibuku menjadikan batu menjadi emas yang terukir. Berharap menjadi intan atau permata, seperti namanya. Mungkin nama itu adalah sebuah harap, agar selama hidupnya ia berusaha menjadi demikian, untuk bisa memancarkan aura positif pada apapun yang melihatnya.

Sunday, March 11, 2018

Sebuah Monolog


Monolog siang menjelang sore:

Perkenalkan, aku adalah aku yang sering berdebat dengan diriku sendiri dengan mendenbatkan siapa diri ini. Perdebatan itu selalu sengit bagiku, dan bagi diriku yang lain. Tiada lelah, bahkan tak terpikirkan olehku untuk mencari sosok mediator sebagai solusi.

Tulisan ini belum selesai. Tapi akan aku selesaikan, saat aku menemukan diriku sendiri.

Thursday, March 8, 2018

aku yang tersesat di dalamku


Kedengarannya memang tragis; aku yang sersesat dalam aku. Seolah tak ada tempat tuk kembali, karena ujung rumah yang paling memungkinkan untuk kembali adalah: diriku.

Kadang bicara tak selepas kata yang ku ucap dalam sebuah tulisan. Dalam tulisanpun aku bungkam. Bungkam dari wadah-wadah sosial yang kini menjadi tempat sampah segala kelancungan.
Aku yang tak mengerti aku, apalagi aku mengerti kau, dunia, semesta, bahkan Tuhan? Semua pertanyaan dalam diri, berperan sebagai lampu merah pada setiap jawaban yang melintas. Menghindari air sungai yang kupikir itu adalah air paling putus asa di dunia ini. Ia mengalir mengikuti bentuk hingga lekuk setiap detail wadahnya. Sepeti bukan dirinya dan tak menjadi dirinya sendiri. Seperti terpaksa akan keadaan dan keberadaan. Seperti menyerahnya daun pada rantai yang miliki daun baru lalu di bawa oleh angin tak bertanggung jawab.


© The Truth of Feeling
Maira Gall