Sunday, August 5, 2018

Arti Sebuah "Respon"

Aku menulis apa yang menjadi kekuranganku, lalu aku berusaha mencari solusi dan menuangkannya dalam tulisan. Bukan berarti aku sudah mendapatkan solusi, tapi aku hanya berusaha mendapatkannya. Jadi, jangan panggil aku pencetus, pengarang, atau pengaruh. Karena aku hanya menuangkan apa yang menjadi usahaku saja. Aku hanya menampar diriku sendiri.

Jadi, seminggu sebelum sidang tugas akhir, aku banyak menerima pikiran aneh dalam kepalaku. Entah apa saja, namun itu lumayan menggangguku disaat aku harus membersihkan kotoran dalam pikiran dan hati untuk sepenuhnya kuberikan pada tugas akhirku. Akhir-akhir ini aku sangat sensitif pada sebuah "respon". Bisa jadi, seperti stiker di spakbor belakang motor, "lu senggol gue bacok". Apapun bahasan atau topik yang sedang dibicarakan, aku selalu mengharapkan respon yang aku inginkan.

Perempuan, apalagi aku, seorang ekstrovert yang mendapatkan energi dengan bercerita. Pada siapa saja, pada apa saja. Jika aku tidak menemukan seseorang sebagai rumah untukku bercerita, pada siapa lagi, selain pada daun-daun dan angin pagi hari. Aku tidak menyebutkan bagaimana caraku bercerita pada Tuhanku, karena itu bukan topik yang ingin aku ceritakan.

Itulah, sedikit menderitanya menjadi ekstrovert menurutku. Jika tidak ada obyek hidup untuk bercerita, pada siapa lagi selain obyek yang mati dan tidak bisa "merespon"? itulah mengapa, aku disini menuliskannya. Kadang, aku suka merasa heran bagaimana seseorang bisa dengan mudahnya mengabaikan orang lain. Ketika temanku butuh teman untuk bercerita, lalu aku mau tidak mau harus mendengarnya. Bukan hanya mendengarnya, tapi juga paham apa isi pembicaraannya. Itulah caraku menghargai temanku. Tapi, jika memang dari awal aku rasa itu tidak penting untuk aku tau, aku bisa bilang itu baik-baik, atau dengan cara yang lebih kreatif untuk menghentikannya. Karena aku tidak tau, apa yang sedang dialaminya. Bisa saja, temanku benar-benar sedang membutuhkan orang lain sebagai 'rumah'nya.

Paham maksudku?

Sunday, July 29, 2018

kepergian

Kepergian,
adalah kontradiksi dari sebuah kehilangan, kesepian, atau kesunyian. Jika sesuatu pergi, ada saja yang membuat rasa tak jadi berarti. Baik atau buruknya tujuan dari suatu kepergian, tak menjadi jaminan ia lalui dengan perasaan. Bisa saja, kepergian itu adalah sebuah keyakinan, keikhlasan, atau kesakitan. Tak ada yang bisa menebaknya.

Kepergian dalam keyakinan, bisa saja percaya bahwa bisa dilakukan walau kepergian itu datang. Keikhlasan dalam kepergian, memberikan sepenuhnya hati dan pikiran dalam perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Kesakitan dalam kepergian, bukan semata-mata karena hasil yang dicapai, tapi sebuah proses naik dan turunnya ritme perjuangan yang telah dilakukan bersama, lebih dari sebuah persahabatan atau cinta. Lebih dari sebuah definisi kebersamaan.

Kepergian bukan hanya tentang melihat jalan elok di depan sana, tapi pergi juga adalah tentang bagaimana melalui jejak langkah yang ditinggalkan. Kepergian itu hilang, tapi tidak dengan jejak langkahnya.

Kepergian ini, bukan tentang apa yang ditinggalkan, tapi siapa yang ditinggalkan, dan alasan mengapa meninggalkan.

Tuesday, March 20, 2018

hidup adalah sebuah petaruh

Sesak tak tertahan oleh sejuknya malam kala hujan yang turun perlahan. Seperti dalam genggaman sang malaikat, napas itu di dominasi oleh ketidakberdayaan perempuan yang sedang bertambah bahaya selagi ganjil usianya.


Tapi, ganjil atau genap, sama bahayanya. Bukan soal sesak, sejuk malam kala hujan, ataupun malaikat yang menemuiku malam itu. Tapi tentang bahaya usiaku. Dua puluh satu tahun, bukan perkara mudah bagi ayah dan ibuku menjadikan batu menjadi emas yang terukir. Berharap menjadi intan atau permata, seperti namanya. Mungkin nama itu adalah sebuah harap, agar selama hidupnya ia berusaha menjadi demikian, untuk bisa memancarkan aura positif pada apapun yang melihatnya.

Sunday, March 11, 2018

Sebuah Monolog


Monolog siang menjelang sore:

Perkenalkan, aku adalah aku yang sering berdebat dengan diriku sendiri dengan mendenbatkan siapa diri ini. Perdebatan itu selalu sengit bagiku, dan bagi diriku yang lain. Tiada lelah, bahkan tak terpikirkan olehku untuk mencari sosok mediator sebagai solusi.

Tulisan ini belum selesai. Tapi akan aku selesaikan, saat aku menemukan diriku sendiri.

Thursday, March 8, 2018

aku yang tersesat di dalamku


Kedengarannya memang tragis; aku yang sersesat dalam aku. Seolah tak ada tempat tuk kembali, karena ujung rumah yang paling memungkinkan untuk kembali adalah: diriku.

Kadang bicara tak selepas kata yang ku ucap dalam sebuah tulisan. Dalam tulisanpun aku bungkam. Bungkam dari wadah-wadah sosial yang kini menjadi tempat sampah segala kelancungan.
Aku yang tak mengerti aku, apalagi aku mengerti kau, dunia, semesta, bahkan Tuhan? Semua pertanyaan dalam diri, berperan sebagai lampu merah pada setiap jawaban yang melintas. Menghindari air sungai yang kupikir itu adalah air paling putus asa di dunia ini. Ia mengalir mengikuti bentuk hingga lekuk setiap detail wadahnya. Sepeti bukan dirinya dan tak menjadi dirinya sendiri. Seperti terpaksa akan keadaan dan keberadaan. Seperti menyerahnya daun pada rantai yang miliki daun baru lalu di bawa oleh angin tak bertanggung jawab.


Tuesday, February 20, 2018

jahatnya jakarta

Panas bercampur dingin di Jakarta malam itu. Damri Bandara Soetta menuju Serpong yang aku nanti tak kunjung datang. Seperti menunggu datangnya malam pertama saat sudah bertukar cincin. Sangat kunantikan, meski aku belum merasakannya.

Setelah dua setengah jam, Damri yang kutunggu akhirnya datang juga. Tak permisi, tak minta maaf, aku pula yang hampirinya. Ia berlaga seperti lelaki kota metropolitan yang sering nongkrong di Mall tembok baja. Sangat jual mahal.

Sunday, February 18, 2018

siluman semut kota kembang

Kamis lalu, aku dan teman-teman sejiwa seraga dan semanusia berjanji bertemu dalam acara yang topiknya sedang asik-asiknya dibahas oleh banyak manusia yang manusiawi di kota kembang ini. Judulnya adalah, "Siluman Pekerja di Kota Kreatif". Terlihat berbahaya memang dari judulnya. Tak jauh dari isi pembahasannya yang terbilang membahayakan jika tidak diselesaikan.


Bisa disebut seperti semut tanpa sarang. Terlihat semrawut ketika mereka membawa makanannya yang entah dibawa kemana. Tak ada tujuan, tak ada 'rumah'. Begitupun pada pekerja kognitif, khususnya di Kota Bandung. Para desainer, editor, fotografer, musikus, penyair, konten kreator, dan lain-lain. Mereka inilah para semut yang tak mempunyai sarang, namun giat mencari makan. 


Tuesday, February 13, 2018

untukmu, aku yang kucari

Kepada Ytsyg.
Aku, yang kau cari

salam, sayang

kemarin, aku dengar, kau mencariku?
sayang,
kau sudah terlalu lama mencari apa yang sebenarnya tak kau cari, mendambakan apa yang sebenarnya tak kau damba.

Saturday, February 10, 2018

bercumbu di rintik malam

pada rintik malam, 
aku bercumbu dalam diam
kelopak yang kubiarkan kusam,
tergenang oleh recikan air yang tertanam


Tuesday, January 30, 2018

kucari aku

kucari aku
menelusuri lorong berlapis susu, putih
melalui kursi roda dan ranjang pasien berjajar memasuki pintu sakti tanda Tuhan
kucari aku disana, nampaknya bukan

merambah tanah pelipur lara, tertawa
menginjak malam hingga fajar terbangun dari lelapnya
bersandiwara, dengan aktor yang tak dikenal sebelumnya
kucari aku disana, rupanya bukan


Friday, January 26, 2018

kukira aku rumah

aku layaknya bulan
yang siang hari hadir
tuk membantu matahari menyinari bumi
namun bumi mengelak
"ini bukan harimu", katanya.

© The Truth of Feeling
Maira Gall