kucari aku
menelusuri lorong berlapis susu, putih
melalui kursi roda dan ranjang pasien berjajar memasuki pintu sakti tanda Tuhan
kucari aku disana, nampaknya bukan
merambah tanah pelipur lara, tertawa
menginjak malam hingga fajar terbangun dari lelapnya
bersandiwara, dengan aktor yang tak dikenal sebelumnya
kucari aku disana, rupanya bukan
menelaah ruang-ruang dalam gedung prestisius berisikan para fungsionaris tempat mereka menaruh tuah
meja dan kursi adalah saksi integritasnya
kucari aku disana, sepertinya bukan
kucari aku, tak juga bertemu
sesampai awan membisikan berita,
ternyata aku sedang dalam perjalanan menuju lautan mimpi, melewati sungai kebahagiaan, bersama perahu kesetiaan dengan dayung dayung yang mengawal melalui tebing kepelikan
kucari aku, nyatanya nyata
Bandung, 29 Januari 2018
No comments
Post a Comment