Sunday, February 9, 2020

Melbourne dan Keberuntunganku

Weekend ini aku menulis di perpustakaan Brunswick, salah satu perpustakaan di dekat tempat tinggalku di Melbourne. 
Lima hari sudah aku berada di Melbourne, dan aku merasakan betapa nyamannya aku berada disini.
Selain keberuntunganku saat pertama kali aku tiba di Australia saat di Toowoomba kemarin, ada lagi keberuntunganku yang lain. 

Pertama, sebelum aku tiba di Melbourne, aku mencari cara bagaimana aku bisa tinggal dengan biaya yang kecil karena tabunganku belum cukup untuk rent room/house yang harganya rata-rata $200/week, setara Rp. 2.000.000/minggu. Cukup mahal memang biaya hidup di Melbourne jika kita belum punya pekerjaan.
Saat itu aku menemukan beberapa platform untuk aku bisa tinggal secara gratis atau paling tidak dengan biaya yang murah, dan diantaranya adalah ada di video ini.
Akhirnya aku menemukan seorang wanita lokal di salah satu platform tersebut dan dia hanya tinggal sendiri di daerah Northcote, Melbourne. Dia menerima tawaran aku untuk tinggal beberapa minggu di rumahnya. How lucky I am?!
Aku tiba di Melbourne pada senin malam, 3 Januari 2020. Saat itulah pertama kalinya ku bertemu dengan wanita lokal itu dan datang ke rumahnya yang sangat minimalis, klasik, dan vintage. Setelah ngobrol beberapa menit saja, aku sudah nyaman karena ternyata dia seorang Psikolog. Kita membahas beberapa obrolan yang ringan tentang hidup, self improvement, mental health, dan spiritual. Walau umurnya sudah belia, tapi aku lebih nyaman ngobrol dengan orang yang lebih dewasa secara pemikiran. And I was thought again... How lucky I am?!

Kedua, dua minggu sebelum aku tiba ke Melbourne, aku memang sudah apply kerjaan sebagai barista/kitchen hand dan menerima beberapa telepon dari employer. Ada tiga employer yang mau menunggu aku untuk tiba di Melbourne dan mengikuti trial di Cafe mereka. Beruntungnya adalah, Hari Senin malam, tanggal 3 Januari  aku tiba di Melbourne. Besok paginya, Selasa, tanggal 4 Januari, aku dipanggil trial disebuah Cafe Turkish. Trial berlangsung selama 2 jam, lalu dengan tegas dan to the point nya employer ini bilang kalau aku diterima dan sudah bisa mulai kerja besoknya. Dan ternyata, manager di Cafe Turkish itu pernah tinggal lama di Indonesia, tepatnya di Malang. Dia bilang, dia suka orang Indonesia karena kebanyakan orang Indonesia itu pekerja keras, bersih, dan totalitas.

Alhamdulillah, saat aku tiba, tidak ada jeda sama sekali untuk aku menganggur atau mencari pekerjaan dengan susah payah. Rejeki memang sudah diatur, bagaimana kita berusaha dan berdoa, itu yang benar-benar menjadi prinsipku saat ini karena aku merasakannya sendiri. Tuhan benar-benar membantu kita.
Tapi, untuk hidup di Melbourne, aku tidak bisa hanya punya satu pekerjaan. Aku masih harus terus mencari pekerjaan lain karena pekerjaan yang aku dapatkan di Cafe Turkish itu belum full satu minggu. Karena aku tidak mau ada hari yang kosong dimana aku menganggur sementara sebenarnya aku bisa untuk bekerja. Mungkin satu hari libur di hari biasa, karena jika bekerja saat weekend, gaji kita bisa dua kali lipat!

No comments

Post a Comment

© The Truth of Feeling
Maira Gall