Bisa disebut seperti semut tanpa sarang. Terlihat semrawut ketika mereka membawa makanannya yang entah dibawa kemana. Tak ada tujuan, tak ada 'rumah'. Begitupun pada pekerja kognitif, khususnya di Kota Bandung. Para desainer, editor, fotografer, musikus, penyair, konten kreator, dan lain-lain. Mereka inilah para semut yang tak mempunyai sarang, namun giat mencari makan.
Dari pembahasannya oleh kuncen Komunitas Sindikasi, disinggung bahwa para pekerja kognitif ini sering kali dianggap kecil, tak terlihat, kurang dihargai, dan yang paling penting: kurang disayangi. Padahal, kinerja yang mereka keluarkan membutuhkan tenaga, waktu, dan mental yang lebih tinggi daripada manusia-manusia yang duduk sebagai Pegawai Negeri Santay itu.
Kopi, rokok, laptop, dan angin malam adalah kawannya setiap waktu. Mereka pekat dengan malam. Itulah mungkin siang tak menerima keberadaannya. Gaji tak seberapa, walau dibilang kelas menengah. Karna manusia normal jaman ini memandang mereka bukan sebagai daya untuk meningkatkan ekonomi negara. Padahal, pekerja kognitif pun bekerja untuk mereka yang bergelut di bidang ekonomi.
Akhirnya, karena semut-semut itu menganggap bahwa sarang yang bukan sarangnyapun tidak menggapnya, tidak jarang dari mereka yang bertanya pada dirinya, "apa sebenarnya defisini bekerja?", atau, "hidup itu apa", atau yang lebih lagi, "apakah kerja itu hidup? atau hidup itu kerja?".
Tentunya, yang mempertanyakan itupun, bukan pekerja kognitif saja. Tapi, bagi manusia-manusia yang berada dalam timbangan tak seimbang; antara hidup dan pekerjaan (life & work balance). Mungkin perlu adanya kehadiran cinta pada setiap sudut timbangan. Agar tentram dan mendingan.
Bandung, 15 Februari 2018.
Dari pembahasannya oleh kuncen Komunitas Sindikasi, disinggung bahwa para pekerja kognitif ini sering kali dianggap kecil, tak terlihat, kurang dihargai, dan yang paling penting: kurang disayangi. Padahal, kinerja yang mereka keluarkan membutuhkan tenaga, waktu, dan mental yang lebih tinggi daripada manusia-manusia yang duduk sebagai Pegawai Negeri Santay itu.
Kopi, rokok, laptop, dan angin malam adalah kawannya setiap waktu. Mereka pekat dengan malam. Itulah mungkin siang tak menerima keberadaannya. Gaji tak seberapa, walau dibilang kelas menengah. Karna manusia normal jaman ini memandang mereka bukan sebagai daya untuk meningkatkan ekonomi negara. Padahal, pekerja kognitif pun bekerja untuk mereka yang bergelut di bidang ekonomi.
Akhirnya, karena semut-semut itu menganggap bahwa sarang yang bukan sarangnyapun tidak menggapnya, tidak jarang dari mereka yang bertanya pada dirinya, "apa sebenarnya defisini bekerja?", atau, "hidup itu apa", atau yang lebih lagi, "apakah kerja itu hidup? atau hidup itu kerja?".
Tentunya, yang mempertanyakan itupun, bukan pekerja kognitif saja. Tapi, bagi manusia-manusia yang berada dalam timbangan tak seimbang; antara hidup dan pekerjaan (life & work balance). Mungkin perlu adanya kehadiran cinta pada setiap sudut timbangan. Agar tentram dan mendingan.
Bandung, 15 Februari 2018.


No comments
Post a Comment