Setelah dua setengah jam, Damri yang kutunggu akhirnya datang juga. Tak permisi, tak minta maaf, aku pula yang hampirinya. Ia berlaga seperti lelaki kota metropolitan yang sering nongkrong di Mall tembok baja. Sangat jual mahal.
Tak lama aku masuk ke dalam Damri itu, aku seperti berada dalam FTV kisah SMA. Ujung kepala sampai ujung kakiku diperhatikan oleh beberapa orang di dalam Damri itu. Seolah aku asing, bukan orang Jakarta, bukan orang baik, bukan orang berduit, bukan manusia. Akupun lekas duduk di sebelah lelaki usia produktif yang sangat sibuk dengan ponselnya.
Setelah dua jam tadi aku menunggu Damri ini, nyatanya ekspektasiku terlalu tinggi untuk sampai di serpong tepat waktu. Lima belas menit setelah aku duduk, kondektur Damri itu berkumandang bahwa Damri ini tidak dapat beroperasi dikarenakan ban yang bocor.
Kesabaranku disana diuji. Aku dan penumpang lainnya pun turun dan dipersilahkan menunggu Bus selanjutnya menuju Serpong. Tapi, karena aku mulai lelah dan malam semakin malam, aku memutuskan untuk naik ojek online saja, agar cepat sampai tujuan. Walaupun jarak Bandara Soetta menuju Serpong sekitar 45 menit.
Tak sulit memang mencari driver ojek online di kota ini. Lautan hijau menyerbu tiap sisi jalan. Sampai pada akhirnya ada yang menanggapi pesanan ojekku, padahal jarak driver menuju Bandara Soetta itu memakan waktu sekitar 25 menit. Walau jam di ponselku sudah menunjukkan waktu pukul 21.40. Tapi tak apalah, hitung-hitung aku menghafal jalan di Jakarta yang sangat memusingkan itu.
Usailah 25 menit aku menunggu, driver ojek online pun datang. Seperti biasa, kami berbincang seperti layaknya penumpang dan driver seutuhnya. Sepanjang jalan, selama 45 menit. Sampai aku lupa kalau langit di Jakarta saat itu sangat indah. Sapaan para bintang dan bisikkan cahaya bulan. Mungkin aku terlalu intim...
Jakarta, 16 Februari 2018
Jakarta, 16 Februari 2018
No comments
Post a Comment