Thursday, March 8, 2018

aku yang tersesat di dalamku


Kedengarannya memang tragis; aku yang sersesat dalam aku. Seolah tak ada tempat tuk kembali, karena ujung rumah yang paling memungkinkan untuk kembali adalah: diriku.

Kadang bicara tak selepas kata yang ku ucap dalam sebuah tulisan. Dalam tulisanpun aku bungkam. Bungkam dari wadah-wadah sosial yang kini menjadi tempat sampah segala kelancungan.
Aku yang tak mengerti aku, apalagi aku mengerti kau, dunia, semesta, bahkan Tuhan? Semua pertanyaan dalam diri, berperan sebagai lampu merah pada setiap jawaban yang melintas. Menghindari air sungai yang kupikir itu adalah air paling putus asa di dunia ini. Ia mengalir mengikuti bentuk hingga lekuk setiap detail wadahnya. Sepeti bukan dirinya dan tak menjadi dirinya sendiri. Seperti terpaksa akan keadaan dan keberadaan. Seperti menyerahnya daun pada rantai yang miliki daun baru lalu di bawa oleh angin tak bertanggung jawab.




Kulit otakku kini terselimut oleh besi-besi aforisme dunia. Untungnya tak sampai pada tulang belulang yang mengasah bau-bau revolusioner.
Begitupun hatiku, kini rantai-rantainya keras menjulang, daun-daunnya lebat dipenuhi oleh kehampaan akan ketidakhadiran bunga yang mekar. Kutinggalkan harap pada akar yang membendung itu semua; agar senantiasa bisa melahirkan ketulusan pada setiap sentimeter pertumbuhannya.
Bahkan tulisan, kalimat, serta kata demi kata  inipun tersesat. Kupenuh harap semoga mereka segera mendapatkan tempat yang menyejukkan di era yang gersang ini.
Lagipula, aku tak tersesat sendirian. Masih ada kau, yang tersesat juga, bukan?

Kineruku, Bandung, 8 Maret 2018




x

No comments

Post a Comment

© The Truth of Feeling
Maira Gall