Kedengarannya memang tragis; aku yang sersesat dalam aku.
Seolah tak ada tempat tuk kembali, karena ujung rumah yang paling memungkinkan
untuk kembali adalah: diriku.
Kadang bicara tak selepas kata yang ku ucap dalam sebuah
tulisan. Dalam tulisanpun aku bungkam. Bungkam dari wadah-wadah sosial yang
kini menjadi tempat sampah segala kelancungan.
Aku yang tak mengerti aku, apalagi aku mengerti kau, dunia,
semesta, bahkan Tuhan? Semua pertanyaan dalam diri, berperan sebagai lampu
merah pada setiap jawaban yang melintas. Menghindari air sungai yang kupikir
itu adalah air paling putus asa di dunia ini. Ia mengalir mengikuti bentuk
hingga lekuk setiap detail wadahnya. Sepeti bukan dirinya dan tak menjadi
dirinya sendiri. Seperti terpaksa akan keadaan dan keberadaan. Seperti
menyerahnya daun pada rantai yang miliki daun baru lalu di bawa oleh angin tak
bertanggung jawab.
Kulit otakku kini terselimut oleh besi-besi aforisme dunia.
Untungnya tak sampai pada tulang belulang yang mengasah bau-bau revolusioner.
Begitupun hatiku, kini rantai-rantainya keras menjulang,
daun-daunnya lebat dipenuhi oleh kehampaan akan ketidakhadiran bunga yang
mekar. Kutinggalkan harap pada akar yang membendung itu semua; agar senantiasa
bisa melahirkan ketulusan pada setiap sentimeter pertumbuhannya.
Bahkan tulisan, kalimat, serta kata demi kata inipun tersesat. Kupenuh harap semoga mereka
segera mendapatkan tempat yang menyejukkan di era yang gersang ini.
Lagipula, aku tak tersesat sendirian. Masih ada kau, yang
tersesat juga, bukan?
Kineruku, Bandung, 8 Maret 2018
x
No comments
Post a Comment