Sesak tak tertahan oleh sejuknya malam kala hujan yang turun perlahan. Seperti dalam genggaman sang malaikat, napas itu di dominasi oleh ketidakberdayaan perempuan yang sedang bertambah bahaya selagi ganjil usianya.
Tapi, ganjil atau genap, sama bahayanya. Bukan soal sesak, sejuk malam kala hujan, ataupun malaikat yang menemuiku malam itu. Tapi tentang bahaya usiaku. Dua puluh satu tahun, bukan perkara mudah bagi ayah dan ibuku menjadikan batu menjadi emas yang terukir. Berharap menjadi intan atau permata, seperti namanya. Mungkin nama itu adalah sebuah harap, agar selama hidupnya ia berusaha menjadi demikian, untuk bisa memancarkan aura positif pada apapun yang melihatnya.
Semakin aku menganggap semua ini adalah bahaya, sungguh sangat bahaya bagiku. Tak bisa dipungkiri lagi jika sepatu berlampu warna-warni dambaanku dulu tergantikan oleh satu-dua ucapan di layar persegi panjang yang bergerak selama lima detik. Bahaya! karena rasa itu bermigrasi dari yang nyata menjadi fana. Tapi, mungkin itu contoh yang dangkal.
Bahayaku ini menjadi perjalanan misteriku selama berjalan menuju misteri yang sebenarnya. Sedikit demi sedikit, waktu mengikis kesempatanku untuk bertahan pada perjalanan misteri itu. Seakan-akan aku ditarik hingga tercekik, didorong hingga tergolong. Waktuku berkurang, tapi petaruhku bertambah. Itulah yang kumaksud, bahwa bertambahnya petaruh adalah bahayaku saat ini.
Semakin besar dan tingginya suatu petaruh, semakin berbahaya jika tak ditaruh. Sang Hakim kan bertanya suatu saat nanti. Petaruh apa yang aku susun untuk menjadi seorang 'manusia'. Petaruh itu meliputi berbagai hal di dunia ini, diantaranya adalah cinta, karir, hiburan, hingga status sosial. Semua aspek diberi tanggungjawab untuk mempertanggungjawabkannya. Dan itu adalah suatu tantangan yang Sang Hakim berikan. Tantangan yang membuatku menghargai apa yang telah aku lakukan, berusaha untuk sesuatu di masa depan, bersabar dan bersyukur, serta yang paling penting; mengingat hidup dan mati.
No comments
Post a Comment